Jerman, Bangkitnya Sebuah Negara Kalah Perang

Bookmark and Share


133784585071944163

Pusat kota Stuttgart tahun 1945 (foto Robert Bothner, LMZ dari http://www.landtagswahl-bw.de/geschichte.html)



Keterpurukan, kekalahan dalam hidup terkadang sulit dihindari, tapi bangkit dari keterpurukan dan kekalahan dengan gemilang, itu hal yang luarbiasa. Contoh negara-negara kalah perang, yang berhasil kembali berbenah dengan baik dan cepat, bisa dilihat dalam sejarah negara Jepang dan Jerman.

Kita sekarang mengenal Jerman sebagai negara industri yang kuat dengan standar hidup masyarakatnya yang tinggi. Namun siapa sangka bila melihat sejarah Jerman, pada tahun 1945 di Jerman hampir tidak tersedia apa-apa. Setengah dari kota mereka hancur dibom, jalan-jalan tidak bisa dilalui, cadangan makanan habis terpakai. Semua rusak dan hancur, ratusan ribu orang dalam pelarian, 50 juta tentara dan sipil meninggal dunia. Keadaan ekonomi semakin memburuk hingga memuncak saat krisis musim dingin tahun 1946/47 ketika para pelarian dan tentara dari perang pulang, ditambah cuaca yang luarbiasa dingin karena tidak ada bahan bakar tersedia, saat itu eksplorasi batubara masih sangat rendah.

Kebutuhan pokok manusia sandang, pangan, papan, pasokan energi dan transportasi, sama sekali buruk. Namun walaupun begitu eufori selamat dari perang lebih mendominasi kehancuran, kelaparan dan gelapnya malam. Sebuah bangsa penemu ini sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan. Seperti peribahasa mereka ” Not macht erfinderisch ( keadaan darurat membuat orang menjadi kreatif)” dari helm tentara menjadi saringan dan panci, dari masker gas penutup wajah menjadi teko minuman.

Sayangnya dalam urusan perut, fantasi mereka agak tersendat hingga untuk meredam kegelisan publik muncullah nasihat-nasihat yang terkenal diantaranya …”Taruhlah tangan Anda saat pergi tidur di atas perut, maka Anda akan merasakan ada sesuatu di dalamnya …”. Tidak lama kemudian koran harian pun mulai menampilkan resep-resep, diantaranya sup tepung dari jagung, Brennessel tanaman yang banyak ditemukan di ladang sebagai pengganti bayam, batang kayu ditumbuk halus untuk membuat tepung lebih awet dst. Lambat laun rakyat Jerman mulai bergeliat kembali untuk perbaikan kehidupan mereka.

Industri Jerman pun kembali berbenah diri dan mulai mempelajari pasar. Industri Inggris saat itu mendominasi pasar dunia. Namun produk-produk Inggris yang kurang berorientasi pada kebutuhan konsumen, dilihat sebagai kekurangan yang mulai diincar Industri Jerman. Maka lambat tapi pasti, produk-produk made in Germany, yang lebih berorientasi pada kebutuhan konsumen, semakin digemari. Cara kerja mayoritas orang Jerman yang alles oder nichts SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI, mampu dalam waktu yang cukup singkat mengejar ketertinggalan mereka di dunia Industri.

Sebagai bangsa kalah perang, jalinan kuat kerja sama diantara masyarakatnya sangat kental. Perbedaan partai, perbedaan ideologi, perbedaan suku, agama atau pun kelompok bukan lagi hal yang utama, jalinan kerja sama antara semua pihak melebur menjadi sebuah motor penggerak kesatuan kekuatan raksasa untuk kembali membangun bangsa mereka yang terpuruk. Hal ini menuntut sebuah pengorbanan kepentingan kelompok, mengesampingkan urusan receh-receh demi hal yang lebih besar dan lebih perlu untuk kebangkitan bangsa.

Berkaca pada sejarah Jerman ini, maka bila kita sebagai bangsa Indonesia dengan penduduk yang banyak, masalah politik yang berbelit-belit, masalah lingkungan dan hidup yang tidak ada habisnya, masalah kesukuan dan golongan yang beragam, masih juga repot mengurusi urusan receh-receh, yang menghabiskan tenaga dan energi seperti konser lady Gaga ??? Hmmmm …. kapan kita bisa melangkah maju dan sepenuh hati memajukan bangsa dari keterpurukan ???????? (ACJP)


1. http://www.bpb.de/geschichte/nationalsozialismus/dossier-nationalsozialismus/

Cahaya Hati